Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Miscellanous. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Miscellanous. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2010

Performance Appraisal (Part-2, Competency Aspect)


Dari tulisan saya sebelumnya, bahwa dalam melaksanakan Performance Management, praktis bagi perusahaan-perusahaan saat ini tidak hanya menempatkan output sebagai aspek yang harus dinilai, namun juga menempatkan aspek proses yaitu salah satunya kompetensi sebagai aspek lain yang juga perlu dinilai.

Secara umum, Kompetensi bisa dibagi dalam 2 jenis kompetensi yaitu hard dan soft. Beberapa perusahaan membagi lagi kompetensi soft tadi menjadi kompetensi-kompetensi yang terkait dengan nilai-nilai perusahaan, nilai strategis, bisnis, hubungan dengan SDM atau kompetensi-kompetensi yang dapat diaplikasikan dimanapun seseorang ditempatkan dalam posisi tertentu misal kemampuan analisis, kemampuan konseptual dan lain-lain. Sedangkan kompetensi hard biasanya merupakan kompetensi teknis terkait langsung dengan pekerjaan yang dilakoni karyawan pada saat ini misal kompetensi posting anggaran, kompetensi marketing survey, kompetensi operasional alat produksi dan sebagainya.

Namun dalam Performance Management jarang perusahaan menggunakan kompetensi hard atau teknis menjadi bagian dari penilaian, alasannya adalah kemampuan teknis tersebut sudah dicerminkan oleh hasil kerja yang dihasilkan. Tentunya logika tersebut dapat diterima, selain terlalu banyak kompetensi yang harus didata secara administratif dan tentunya akan menyulitkan perusahaan secara makro. Untuk itu, banyak perusahaan menggunakan hanya soft competency sebagai bagian dari aspek penilaian bahkan hanya kompetensi strategis saja yang digunakan terutama terkait dengan visi, misi dan obyektif perusahaan. Umumnya jumlah kompetensi yang digunakan tidak lebih dari 8 dan tidak kurang dari 3 kompetensi.

Penilaian dari aspek kompetensi dapat menggunakan beberapa metode rating misalnya likert scale, BARS, 360 degree dan sebagainya. Scale Likert paling banyak digunakan karena penggunaannya yang sederhana dan tetap mewakili penilaian yang menuju ke arah obyektifitas.

Kombinasi dari Performance (Kinerja) dan Competency (Kompetensi) tadi akan menghasilkan output penilaian dari Performance yang lebih lengkap sehingga memudahkan bagi management untuk memberikan perlakuan yang tepat terhadap hasil Performance Management karyawan. 

Selain dari aspek diatas, Proses yang penting untuk dilaksanakan dalam Performance Management adalah Feedback yang seringkali diabaikan dengan berbagai alasan (khusus di Indonesia). Dengan pelaksanaan Feedback, input dan komentar akan semakin melengkapi dalam mencari solusi permasalahan maupun meningkatkan performansi yang telah baik untuk menjadi lebih unggul.

Istilah 'Belt Curve' juga sering didengar tatkala proses PM telah selesai digunakan. Secara ringkas, Mekanisme penyesuaian/moderasi hasil penilaian dilakukan dalam rangka hubungannya dengan anggaran terhadap reward yang akan diberikan. That's all.

Mau diskusi lebih lanjut?

*Me as one conceptor of HR Policy in my company.
http://menupulsa.webs.com/ -- > mau jadi agen pulsa elektrik? 

09 Oktober 2010

Performance Appraisal (Menilai Kinerja) ?


Tatkala mendengar dua kata diatas, tidak lain seperti halnya kita berada dibangku sekolah dimana setiap semester (dulu zaman saya masih duduk dibangku SD masih dalam periode kuartal). kita selalu dipanggil orang tua kita masing-masing untuk mengambil hasil prestasi sekolah kita. Alhamdulillah, selama duduk dibangku sekolah, selalu ada daya kompetisi sehat yang selalu muncul dalam benak dan hasrat saya untuk selalu menjadi yang terbaik. Ya memang setiap periode tertentu, kita memang dilaporkan oleh Guru/Pengajar kita bagaimana hasil belajar, test dan prestasi kita.


Tidak beda dengan saat-saat kita di sekolah. Dalam perusahaan pun selayaknya kita sebagai karyawan diharuskan selalu memberikan yang terbaik bagi perusahaan sebagai hasil proses kerja kita yang biasa disebut KINERJA atau PERFORMANSI. Awal periode, kita diminta untuk menetapkan target kerja yang tentunya berhubungan dengan produktivitas, dan di akhir periode saatnya buat kita melaporkan apakah hasil pekerjaan kita memuaskan dan mendukung produktivitas perusahaan atau tidak. Tentunya hal ini hanya berlaku bagi perusahaan-perusahaan yang menerapkan budaya performansi sebagai akar peningkatan produktivitas, karena dengan pelaksanaan yang tepat, segala sesuatunya dapat meningkatkan pertumbuhan perusahaan. Berbeda dengan perusahaan yang mengandalkan peruntungan. Tidak ada dasar dan bahan yang akan digunakan untuk evaluasi bila terjadi kegagalan pada bisnis yang dijalankan perusahaan itu.


Menjalankan proses performance appraisal (secara lengkap disebut dengan Performance Management) tidaklah mudah seperti yang dibayangkan. Hal ini disebabkan karena penilaian bukan dilakukan hanya pada satu aspek saja atau satu obyek saja melainkan semua aspek dan unsur yang berada dalam organisasi. Aspek finansial sebagai aspek yang paling mudah dilihat untuk menunjukan apakah perusahaan kita selalu tumbuh dan berkembang atau hanya jalan ditempat saja. Pun kita tidak bisa melihat dan menilai hanya Direksi saja sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam tumbuh kembang atau menurunnya nilai perusahaan, namun semua karyawan yang ada didalamnya.


Singkat kata, penulis berkesimpulan ada 3 Proses yang penting dan sebagian besar dilaksanakan oleh perusahaan yang melaksanakan Performance Management yaitu :

1. Setting Target

2. Monitoring & Review

3. Evaluation & Appraisal


Dalam setting target, biasanya ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan historikal pertumbuhan perusahaan, kapasitas perusahaan, dan market. Penetapan target harus berdasarkan realitas kemampuan yang ada, agar menjadi motivasi tersendiri bagi seluruh karyawan untuk mencapainya. Tentunya pernah mendengar istilah S M A R T yaitu Specific (fokus), Measurable (dapat diukur), Agreeable (disetujui kedua pihak), Realistic (sesuai kondisi dan kenyataan yang ada), Time-bound (berbatas waktu), selain itu saya selalu menambahkan dengan C yaitu Continuously (terus menerus ditingkatkan).


Monitoring & Review perlu dilakukan setiap saat agar tidak ada penyimpangan yang signifikan dan pelaksanaan pekerjaan tetap berada pada jalur yang benar. Bila memang ada faktor X yang memaksa perusahaan untuk menyesuaikan, maka review menjadi alasan yang tepat untuk melaksanakannya. Monitoring & Review dapat dilakukan secara satu arah (memonitor pada ukuran-ukuran kinerja yang kemudian dilanjutkan dengan instruksi) maupun dua arah (feedback, konseling, diskusi). Kendala-kendala akan lebih mudah diantisipasi sehingga target yang telah ditetapkan tidak jauh meleset dari perkiraan.


Evaluation & Appraisal merupakan tahap akhir yang dilakukan dengan melakukan penilaian secara obyektif terhadap tugas-tugas yang berhasil maupun tugas yang tidak berhasil. Bila kinerja yang dihasilkan sesuai target terlebih jauh diatas target maka biasanya perusahaan memberikan penghargaan bagi seluruh karyawannya baik berupa materi maupun non materi. Sedangkan bila kinerja buruk, maka improvement plan bahkan sangsi akan diberikan perusahaan.


Dibalik proses kerja dan hasil kerja (kinerja), ternyata adalagi aspek yang melekat. Bagi sebagian perusahaan hal tersebut menjadi penting, namun bagi sebagian lainnya, merupakan dianggap sebagai aspek pendukung saja. Apa itu? yaitu COMPETENCY. Mengenai kompetensi akan dibahas pada tulisan berikutnya ...


*Me as one concept designer of HR Policy di perusahaan saya

11 Agustus 2009

Facebook...oh...Facebook

Bukan barang baru atau mainan baru lagi karena sudah berjuta-juta masyarakat indonesia bahkan dunia mendaftarkan diri pada situs jejaring sosial ini. Dia lah jejaring sosial yang disebut Facebook (baca:fesbuk).

Facebook menjadi sarana tersendiri buat pengguna untuk mengapresiasikan diri dan bukan hanya untuk memperluas network pergaulan. Facebook dapat mempertemukan orang-orang yang sudah lama tidak kita jumpai bahkan kita dengar sekalipun tapi Facebook juga dapat membatasi orang untuk bergaul secara maya didunia tanpa batas. Sekedar mencurahkan hati, perasaan dan aktivitas kita sehari-hari. Situs jejaring sosial seperti ini tentunya ada manfaatnya disamping ada juga ketidakmanfaatnya, tergantung bagaimana cara pandang orang terhadap facebook dan penggunaannya.

Teman, saudara, keluarga sudah mulai terhubung satu sama lain dengan situs jejaring sosial ini. Bos-anak buah, Orang tua-anak, Pacar kita pun jadi terhubung satu sama lain. Kita jadi tahu aktivitas satu sama lain, apa yang dilakukan bahkan apapula yang kita rasakan. Konektivitas ini pula yang akan jadi ancaman buat kita, karena saat kita terhubung dengan orang-orang disekeliling kita dan kita tidak ingin diketahui apa yang terjadi pada diri kita, menjadi porsi tersendiri atas kebebasan mengapresiasikan diri.

Hari ini baru saja saya terima sebuah informasi seorang anak buah yang mengeluhkesahkan bos nya dan dia terlupa bahwa dalam daftar facebook nya terdapat teman yang tidak lain adalah bos nya sendiri. Tentunya dapat diprediksi apa yang akan terjadi kan? Atau aktivitas sehari-hari orang tuanya yang diketahui anak-anaknya dan lebih buruk lagi ketertarikan seorang laki-laki pada wanita lain dan diungkapkan dalam account laki-laki tersebut padahal terdapat daftar wanita yang tidak lain adalah kekasihnya.

Jadi sebenarnya Facebook untuk apresiasi diri terhadap teman 'bebas ekspresi' nya atau Jaga image (Jaim) dengan ekspresi yang datar saat kita terhubung dengan beberapa orang terdekat?

Tentunya pilihan kita masing-masing, tapi yang pasti rekan yang berfacebook ria, melahirkan senyum setiap saat atau ekspresi tersendiri tanpa ada orang disampingnya... tanda-tandakah?

Selamat ber-facebook.... :)